Rabu, 12 September 2012

Panggilan Tuhan atau Cita-citamu?

Shalom buat para pembaca. Pada tulisan kali ini saya cuman mau bagi sedikit pengalaman dibawa kedalam rancangan Tuhan yang luar biasa. Saat itu saya menginjak kelas 2 SMA. Seperti remaja pada umumnya yang memiliki cita-cita dan harapan akan masa depan yang ingin diraih, saya juga punya cita-cita, yaitu, untuk menjadi seorang Pendeta Kristen. Saya mencoba mencari informasi Universitas-universitas yang menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk belajar dan menjadi seorang pendeta. 
Saya pun mendapatkan Universitas tersebut. Universitas yang sangat luar biasa bagi saya, Universitas yang memiliki latar belakang atau lebih tepatnya mendasari semua penyelenggaraannya pada Kebenaran Firman Tuhan. Universitas Tersebut adalah Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Rancangan Tuhan yang luar biasa itu terjadi ketika saya ingin masuk dalam Fakultas Teologi UKSW Salatiga. Namun saya mendapat tantangan dari kedua orang tua saya. Mereka memaksa saya untuk masuk Fakultas Ilmu Kesehatan dengan Konsterasi Pendidikan yaitu Ilmu Keperawatan. Saya berisi keras untuk masuk Fakultas Teologi. Kemauan saya yang sangat keras dibarengi dengan usaha kekanak-kanakan seperti menangis, memohon dan lain sebagainya sama sekali tidak meluluhkan hati orang tua untuk mengijinkan saya masuk Fakultas Teologi.
Papa dan Mama tetap pada pendiriannya untuk memasukan saya di Prodi Ilmu Keperawatan FIK-UKSW Salatiga. Saya dengan terpaksa menyetujuinya dengan syarat, jika pada semester 1 nilai saya C pada semua mata kuliah yang saya ikuti, setuju ataupun tidak, mereka ( orangtua saya ) harus memindahkan saya ke Fakultas Teologi. Saya pun akhirnya masuk dan belajar bersama puluhan mahasiswa yang ingin menjadi perawat. Dalam perjalanannya saya sedikit keheranan, saya tidak mendapat hambatan satupun dalam mengikuti perkuliahan. Justru dalam setiap tes tes yang saya ikuti, nilai saya menduduki nilai terbaik dikelas dan yang lebih luar biasa, dua tes saya mendapat nilai SEMPURNA!
Saya sempat merasa kebingungan, mengapa nilai saya justru baik, yang sebaliknya saya justru mengharapkan memiliki nilai yang buruk sehingga bisa dipindah ke Fakultas Teologi.
Di akhir semester saya sangat tercengang, karena, dua mata kuliah yang saya ambil disemester 1 justru mendapat nilai A dan AB. Sama sekali tidak nampak nilai setengah lingkaran yaitu C.
Saya mau tidak mau harus kembali melanjutkan pendidikan saya di prodi ilmu keperawatan. Saya pun masih belum sama sekali menyadari rancangan atau panggilan Tuhan yang ingin dinyatakan dalam hidup saya.
Saya memiliki beberapa teman yang sudah lulus menjadi seorang Sarjana Teologi yang hendak mendaftar menjadi seorang pendeta di 1 gereja. Saya mendapatkan informasi yang mencengangkan dari beberapa teman. Sebelumnya saya harus menjelaskan motivasi saya menjadi seorang pendeta. Motivasi saya adalah ingin melayani Tuhan di gereja dimana saya terdaftar. Yang notabene, gereja tersebut termasuk Gereja bonavit  didenpasar ( kota saya tinggal ). Bagi setiap pendeta yang melayani didalamnya, mendapat service yang sangat memuaskan, pulsa, rumah tinggal, gaji, tunjangan ini dan itu hadir seperti air mengalir. Itulah yang membuat saya sangat terpacu.
Namun benar kata Firman Tuhan, " Allah melihat hati ".
Persyaratan untuk menjadi menjadi pendeta di gereja tersebut adalah harus menjadi warga Baptis dan warga sidi dari gereja tersebut. Namun setelah saya mengecek kembali surat baptis dan surat sidi saya, justru  memiliki perbedaan. Saya di Baptis di Gereja Bebas Reformasi Waingapu-Sumba Timur, namun surat sidi saya dikeluarkan oleh gereja didenpasar.
Dari sinilah saya mulai melihat bahwa atas dasar motivasi baik namun dibayangi motivasi lainnya yaitu uang, tidak akan mendapat jalan tuntunan dari Tuhan. Saya mulai menyadari bahwasannya kembali kita harus mengingat Orang Tua adalah wakil Allah didunia yang pasti senantiasa mendoakan dan memberikan arah baik bagi anak-anaknya. Saya pun kini menyadari kenapa saya harus berada didalam perjalanan panjang menjadi seorang perawat.
Jalan saya untuk menjadi seorang pendeta di gereja yang saya inginkan seperti benar-benar ditutup rapat oleh Tuhan.
Saya belajar banyak dan berpesan bagi para pembaca, Dengarlah kata orangtua, Tunduk dan berdoa minta jalan terbaik akan masa depan kalian kepada Tuhan. Sungguh tidak keren memaksakan kehendak kita yang ternyata justru Allah lah yang berkehendak dalam kehidupan ini..
Semoga Tuhan Memberkati para pembaca ! :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar